Kekinian, banyak orang yang tanpa disadari memiliki pertempuran dalam batin dengan mental sendiri. Diterpa dengan beratnya pekerjaan, judgement orang, kekhawatiran akan masa depan, insecurity, dan berbagai hal lainnya. Semakin pula sibuk orang sehingga kita tidak bisa saling mencurahkan pikiran. Baik kita menuangkan isi hati kita, maupun juga mendengarkan keluh kesah orang lain. Seringkali orang semakin egois "Hidupku sendiri sudah berat, untuk apa aku mendengarkan beban orang lain?" Sikap individualistis itulah yang kemudian akan saling membunuh karakter dan mental.
Pernah ada suatu saat dimana seorang adik kelas saya, yang notabene adalah mentee saya di universitas, terlintas di timeline saya dan terlihat anak ini menuliskan story instagram dengan sedikit "aneh". Apalagi saat itu sedang ada kasus bunuh diri artis yang disebabkan oleh depresi. Dan di relung hati kecil saya bertanya. Apakah saya harus meraih anak ini? Apakah ia akan terbuka? Kebetulan mentee saya ini sudah pindah dari universitas karena permasalahan keluarga, dan sebelumnya sewaktu masih berkuliah, memiliki permasalahan dengan teman temannya dan disebabkan oleh trauma masa kecilnya.
Dan kasus itu ternyata terulang di kampus barunya. Teman temannya membully dia, keluarganya dirasa tidak mendukung, permasalahan biaya kuliah, dan dia menyebutkan kata yang membuat hati saya sakit: "Sebelum cici chat aku, aku udah mau bunuh diri ci. Aku merasa ga berguna lagi hidup di dunia ini." Kemudian saya mendengarkan keluh kesah dia. Dengan sedikit waswas "Bagaimana jika saya salah berkata-kata? Apakah akan menjadi bumerang untuk anak ini?" Dan sembari saya mendengarkan curhatnya, saya mengatakan bahwa ia harus mencari bantuan profesional dan juga iman. Jadi saya menyarankan ia bercerita juga dengan pembimbing rohani dan memberikan beberapa kontak lembaga psikolog yang gratis dan bisa membantu. Ia berusaha mengatasi masalah mental ini selama beberapa waktu.
Singkat cerita, anak ini suatu saat mengirim pesan singkat kepada saya dan bercerita ia mendapatkan anugrah dan juga keajaiban. Permasalahan biaya kuliahnya terbantu, ia mendapatkan tempat magang yang baik, dan bisa menyelesaikan beban bebannya. Dan yang membuat saya terharu dan merasa pilihan saya untuk mengulurkan tangan saya tidak salah adalah kata-katanya yang seperti ini: "Aku mau bilang makasih ci, waktu itu cici sudah nolongin aku, makasih juga sudah peduli sama aku Aku sekarang bisa kenal Tuhan karena cici pernah nolongin aku waktu itu, Makasih ci, aku bisa hidup hari ini." Perasaan lega yang tiada terkira menembus hati saya.
Melalui tulisan kali ini bukannya saya ingin menyombongkan niat baik saya membantu mentee saya saat itu. Tetapi ingin berkata bahwa jika kalian memiliki permasalahan, berbagilah dengan orang lain. Jika tidak ada yang bisa anda ceritakan, cerita ke Tuhan, cerita ke pembimbing rohanimu. Carilah orang profesional yang bisa mendengarkanmu, sekarang sudah banyak lembaga psikologi yang menawarkan jasa gratisnya. Dan jika anda mengenal orang yang sedang memiliki masalah dalam kehidupannya, kiranya anda ulurkan tangan dan bantu dia untuk keluar. Sederhana, dengarkanlah saja dia. Tidak perlu ikut menasihati, karena terkadang ada orang yang memang hanya butuh didengarkan. Kiranya post saya yang kali ini bisa menjadi berkat untuk semua orang. :)
Yang mau bercerita, boleh dengan terbuka aku jadi teman online bercerita, hubungi ke email:
halim_felicia@yahoo.co.id
========================================Fel's======================================
