"Indonesia sudah bisa disebut sebagai negara maju" - sempat menjadi headline di kanal berita. Karena negara ini sudah bisa menghasilkan produk ekspor yang baik. Tetapi, apakah rakyat kita sudah siap dengan perubahan yang sangat besar ini? Banyak hal yang masih jauh dari kata negara maju. Banyak pemikiran dari rakyat yang susah untuk diubah. Berkendara di jalan raya dengan sembrono? Hal tersebut sudah bukan hal yang jarang dilihat. Banyak pengendara di jalan raya yang sangat tidak mematuhi aturan berkendara. Jika sudah terjadi kecelakaan, siapa yang disalahkan? Tentunya takdir. Memang takdir yang berkata, tapi tentu bisa diminimalisir dengan berkendara aman. Tidak saling serobot, tidak melanggar aturan lalu lintas.
Itu baru mengenai hal berkendara. Jika hal lain yang menjadi pertimbangan, ingat saja saat perang politik mendekati pemilihan umum. Banyak orang yang asal ikut saja tanpa berpikir panjang. Ikut yang mayoritas. Pemikiran yang egois dan akhirnya menyusahkan banyak pihak. Ingin rakyat miskin diperhatikan, ingin diberi subsidi. Tetapi yang dilakukan adalah demo, sampai berjilid jilid, dan merusak fasilitas umum. Biaya siapa yang kalian pikir digunakan untuk menyewa polisi, menjaga kedamaian demo, memperbaiki fasilitas yang dirusak. Tentu saja uang negara dari pajak yang kita bayar. Uang yang diserukan diinginkan untuk digunakan oleh rakyat kecil sebagai subsidi.
Dari mana menurut anda hal tersebut dimulai? Menurut saya dimulai dari orang tua yang kurang bijak dalam mendidik anak-anaknya. Orangtua yang hanya berpikir untuk "membuat" anak tanpa memikirkan bagaimana mendidik anaknya dengan baik. Meninggalkan anaknya untuk bekerja, tanpa bimbingan, membiarkan anak mendapatkan pendidikan usia dini dari luar. Dari televisi dan internet misalnya. Tahukah anda bahwa banyak hal yang bisa diserap anak anak, bahkan hal buruk sekalipun. Dan dunia internet dan televisi tentunya hal yang tidak dapat dikontrol jika anak sudah dibiarkan memulainya. Bahkan saja beberapa kali saya pernah menonton film di bioskop, dan tetap saja banyak orang yang mengabaikan golongan umur. Anak balita diajak nonton dengan rating dewasa? Bukan hanya sekali dua kali ditemukan.
Contoh terdekat dan terekstrim dari pengaruh film yang ditonton oleh anak kita adalah kasus anak berusia 15 tahun yang membunuh anak usia 6 tahun dikarenakan terinspirasi oleh film. Dan anak tersebut tidak menyesal sama sekali. Siapa yang bisa disalahkan dengan kejadian ini? Menurut pendapat personal saya, tentu adalah orang tua dari anak itu. Mengapa anak seusia itu sudah bisa menonton tontonan yang bukan usianya? Tentu bukan dalam waktu sebentar saja anak itu menonton sehingga bisa membangun mentalnya. Itu butuh waktu sekian lama sehingga karakter dan pemikiran anak itu bisa dipengaruhi oleh film tontonannya.
Ayo teman, ubah pikiran kita, ubah egois kita. Dan jangan lupa bimbing pula anak anak bangsa sehingga pemikiran lama yang sudah salah sejak generasi sebelumnya bisa diperbaiki di generasi penerus bangsa. Mulai dengan bijak ketika mendidik anak kita sehingga tidak terjadi lingkaran setan yang tidak ada habisnya dan rakyat kita semakin rusak.
================================Fel's======================================

No comments:
Post a Comment