Belajar mengenal kembali diri sendiri

Thursday, 14 January 2021

 Jujur saja, saya sempat bingung, apakah post mengenai kegalauan harus di archive, ataukah tetap di publish? Bagaimana kalau orang yang bersangkutan kebetulan membaca, dan dia menganggap saya selemah itu? Well, gabisa bohong, namanya proses penyembuhan hati, pasti memang ada naik dan turunnya, dan itu menjadi salah satu bahan sharing saya untuk diri sendiri dan orang lain. Bahwa memang saya pernah menyayangi seorang dengan setulus hati sampai tidak memikirkan diri sendiri, dan setelah sudah kembali menjadi pribadi yang lebih fresh dan akhirnya tahu, bahwa kebahagiaan saya banyak yang tertinggal, dan bisa dicapai dengan yang lain.

Memang, kita tidak ada yang tahu kalau kemarin bersama dia akan menjadi lebih bahagia sampai tahap mana, lebih baik tidak menerka, karena kita sudah jalan di jalur masing-masing, right? Kamu dan aku bisa mengatasi memar di hati, dan bisa bangkit lebih tinggi. Itu lebih penting.

Dan satu yang menjadi pelajaran hidup saya, bukan salah karena terlalu menyayangi all in, tetapi adalah ketika kita tidak memikirkan tentang diri kita sama sekali. Kita tidak mengeluarkan yang kita inginkan, yang versi bahagia dan kehidupan yang kita inginkan. Dan ketika hanya ada salah satu pihak yang berbicara, dan saya menahan apa yang saya rasa, dan mendahulukan semuanya tentang dia, maka kehilangan eksistensi diri lah yang terjadi. Dan dia kemudian tidak mengenal sosok kita yang sebenarnya, tidak melihat berlian di diri kita karena kita menyembunyikannya.

Ya, hal ini mulai menjadi semakin membuat saya bangkit, dari dukungan orang orang yang mengenal kita, melihat betapa istimewa kita. Kemudian mengeluarkan kembali dan flashback masa masa indah, misal perkuliahan. Senyum yang kita dapatkan dari hal yang kita suka. Ketika mengerti bahwa, Ya, saya memang sayang dengan dia, dan saya memang akan memfokuskan diri untuknya, membuat dia bahagia, dan meninggalkan yang kita suka. Kehidupan charity, kumpul bersama teman dengan kesukaan yang sama, bersekutu bersama dengan Tuhan, bahkan kehidupan guru sekolah minggu yang saya rindukan.

Jangan karena kita sayang dengan dia, maka kita memendam kualitas diri kita, dan mengorbankan semuanya untuk kebahagiaannya. Cobalah berani mengekspresikan diri kita yang sesungguhnya, karena jika dia orang yang sepadan dan seiman, maka ia akan menerima kita berserta seluruh kehidupan kita. Jangan pernah gantungkan kebahagiaan dan hidup kita pada manusia, karena kita tidak tahu kapan manusia itu akan meninggalkan kita. Gantungkanlah kehidupan kamu, kebahagiaan kamu hanya untuk Tuhan dan diri kamu sendiri. Karena kamu tidak akan ditinggalkan. Tetap buka hati untuk selalu menyayangi calon imammu, dan kalau dia imam, dia akan mengarahkan kehidupanmu menjadi lebih bermanfaat dan dia akan semakin membuat diri kamu bersinar, bukan kamu meredup untuk menaikkan sinarnya. Karena kehidupan yang indah adalah ketika sama sama bertumbuh dan menopang, bukan hanya salah satu pihak yang berusaha mengusahakan kebahagiaannya tanpa pasangannya tahu. Karena kemudian jika pasanganmu tahu bahwa kamu tidak bahagia, dia akan sedih. Mungkin saja dia tidak tahu yang kamu korbankan, dan dia tidak akan tahu jika kamu tidak berani speak up.

Tidak ada yang salah dalam mencintai, yang salah adalah ketika kamu mencintai orang yang tidak bisa mencintai kamu. Tidak ada yang salah dengan cinta, yang salah adalah bagaimana kamu mencintai. Dan ya, tentu tidak mungkin orang yang menjadi subjek beberapa blog belakangan ini kebetulan membaca tulisan ini, dan saya yakin kita sedang berjalan ke kebahagiaan yang sama. Hanya saja jika kebetulan, tentu kamu tahu bahwa tidak ada dari kita yang salah. Gapailah bahagiamu, Terimakasih sudah membuat saya menyadari berbagai potensi diri dan sumber kebahagiaan. Di momen ini saya yakin, kita sudah meraih kebahagiaan kita yang masing masing. Terimakasih, kamu sudah melepas saya dan membuat saya terjatuh namun akhirnya bangkit lebih tinggi lagi. We both deserve to get happiness.

No comments:

Post a Comment

 
Blog of Felicia Yuliana Halim